Malam telah menenggak habis sisa pahit di cangkirku,
sementara Semar masih menyembunyikan rahasia di lipatan jariknya.
Di sudut langit barat yang fana,
engkau berdiri sendirian, kekasih yang tak lagi kupunya.
Menjadi pijar terakhir yang enggan padam,
meski subuh mengetuk pintu dengan dingin yang begitu pongah.
Mengapa engkau masih membendung terang di sana?
Apakah engkau sengaja menunda fajar,
agar gelap yang kita bagi tidak terburu-buru berubah menjadi asing?
Atau engkau sedang menunggu aku selesai menghitung seluruh luka,
seperti Bisma yang menembus batas deritanya sendiri?
"Drupadi," bisikmu pada angin yang membelai lukisanku,
"cinta tak pernah butuh pesta penutupan."
Dada ini remuk saat kuukir binar terakhirmu di lembar ini.
Engkau berpijar sekali lagi—pelan, perih, namun teramat indah.
Satu kedipan yang meruntuhkan seluruh logika yang kususun rapi,
satu kedipan yang menyapu bersih sisa ketegaranku di hadapan malam.
Engkau adalah pertanda usainya malamku.
Bukan karena engkau sekadar menyudahi gelap,
tapi karena setelah engkau meredup dan lenyap dari jangkauan,
hanya bayangmu satu-satunya alasan aku bersedia memaafkan pagi yang sepi ini.
Jancuk. Betapa biadab indahnya caramu pamit dari langitku.